KOTA BEKASI - Penggusuran lapak UMKM yang bersebelahan dengan Pendopo Apresiasi, markas dan ruang berkumpul anak-anak Kelompok Pemuda Jalanan (KPJ) Kota Bekasi di Lapangan Multiguna, menjadi perhatian. Remon Bitti, perwakilan KPJ, menyatakan bahwa pihaknya mendukung penuh program pemerintah dalam mewujudkan kebersihan, ketertiban, dan keamanan (K3), namun berharap kebijakan penataan tidak menghilangkan ruang pembinaan yang telah berdiri hampir tiga dekade dan memberikan manfaat nyata.
"Jangan yang jelas-jelas dibina justru tidak mendapat ruang, sementara kami yang tidak jelas di jalanan ini tidak mendapat ruang. Padahal, tidak semua penyanyi berbakat seni. Ada yang berbakat olahraga, dan itu juga harus dibina," tegas Remon dalam keterangannya.
Sudah 29 Tahun Berdampak Positif
KPJ Kota Bekasi telah bergerak selama 29 tahun sebagai wadah pembinaan olahraga, seni, dan kebudayaan. Sejak 2003, mereka menggunakan panggung yang dibangun pemerintah pada 2002 di Lapangan Multiguna sebagai pusat kegiatan.
Dari sana lahir berbagai aktivitas mulai dari latihan teater, musik, diskusi, hingga pembinaan olahraga seperti taekwondo (bernaung di PBTI PENGCAB Kota Bekasi) dan tinju bagi anak-anak jalanan yang memiliki bakat.
Pendopo Apresiasi bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan juga menjadi ruang diskusi Kata Kota Kita dan pusat edukasi bagi anak-anak jalanan dengan prinsip kemandirian sebagai cermin jiwa merdeka. Di lokasi tersebut, mereka membangun sumber daya manusia, berdiskusi lintas komunitas, dan merajut gagasan untuk kemajuan Kota Bekasi.
Lapangan Multiguna sendiri telah menjadi kantong budaya yang ramai dikunjungi berbagai komunitas, antara lain komunitas barang antik, batu akik pandan, sepeda ontel, dan Orang Indonesia (Oi).
Berbagai kegiatan seperti kontes batu, edukasi pusaka, hingga temu gagasan terus berkembang di kawasan tersebut.
Usulkan Jadi Pasar Seni, Bangun Identitas Budaya Bekasi
Remon mengusulkan agar kawasan tersebut dikembangkan menjadi pasar seni guna menghidupkan identitas budaya Bekasi.
Sebelum berkembang menjadi kawasan modern, Bekasi dikenal dengan wilayah rawa seperti Rawa Panggulan, Rawa Aren, Rawa Tembaga, hingga Rawa Bebek.
"Bekasi bukan hanya dikenal sebagai Kota Patriot, Kota Iman, atau Kota Santri, tetapi juga harus memiliki identitas budaya yang kuat dan membumi. Kalau batu bacan dari Sulawesi, di Bekasi terkenal dengan batu akik pandan. Kita punya ciri khas, tinggal diberi ruang," ucapnya.
Untuk sementara, KPJ masih diberi waktu hingga dilaksanakannya audiensi dengan pemerintah setempat. Harapan mereka sederhana, agar ruang tersebut tetap dipertahankan karena manfaatnya tidak hanya bagi KPJ, tetapi juga bagi anak-anak jalanan yang membutuhkan pembinaan dan perhatian.
Anak di Bawah Umur Tanggung Jawab Bersama
Menurut Remon, urusan anak di bawah umur merupakan tanggung jawab negara, namun dalam praktiknya KPJ sering menjadi pihak yang membantu ketika ada anak yang sakit, putus sekolah, atau membutuhkan bantuan sosial. Ia mengibaratkan, jika terdapat kawasan larangan merokok harus ada kawasan bebas rokok, begitu pula dengan ruang berdagang dan berekspresi.
"Tanpa adanya ruang, persoalan sosial tidak akan selesai, melainkan hanya berpindah tempat," katanya.
Pendopo Apresiasi juga diakui oleh warga sekitar membawa dampak positif. Kawasan yang sebelumnya rawan tindakan asusila dan kriminal, perlahan berubah karena adanya aktivitas seni, olahraga, dan komunitas yang menjaga lingkungan tetap aktif dan positif.
Remon menutup dengan idiom yang menjadi semangat perjuangan KPJ: "Jalanan bukan sandaran, jalanan bukan pelarian. Jalanan adalah kehidupan. Jalanan bukan impian, bukan khayalan—jalanan adalah kenyataan." Ia juga menegaskan bahwa tidak ada pemuda dan pemudi Indonesia yang bercita-cita menjadi pengamen, jalanan hanya menjadi ruang bertahan hidup sebelum menemukan tujuan yang lebih baik.
"Di KPJ hanya ada dua larangan: pertama, melakukan tindakan kriminal; kedua, bertengkar atau berselisih dengan sesama. Nama itu kosong, karya itu nyata," pungkasnya.
KPJ berharap Pemerintah Kota Bekasi dapat menjadi penyambung, bukan pemutus. Sebab, ketika ruang hidup, seni, dan pembinaan tetap terjaga, Kota Bekasi tidak hanya membangun fisik kotanya, tetapi juga kualitas manusianya.
Wawan S.A.N
